Revealing The meaning of The Tajin Sappar Tradition in The Value of Cultural Acculturation in Pamekasan Regency
Kata Kunci:
Tradition, Cultural Acculturation, written alphabeticallyAbstrak
Tradisi “Sapparan” yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat Muslim pedesaan kabupaten Pamekasan merupakan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun temurun sebagai bentuk akulturasi budaya dari nenek moyang. Tradisi “Sapparan” diharapkan menjadi solusi dalm menciptakan masyarakat Muslim di Kabupaten Pamekasan rukun dan damai. Tradisi “Sapparan” juga menjadi sarana dalam mempertahankan dan mengembangkan tradisi keIslaman yang tetap eksis hingga saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap; pertama Tradisi “Sapparan” sebagai bentuk akulturasi budaya dan Islam. Kedua, cara mempertahankan budaya tradisi tajin sappar dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Pamekasan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, Tradisi “Sapparan” merupakan tradisi keagamaan bagi Masyarakat muslim sebagai bentuk akulturasi budaya dan Islam. Kedua, mempertahankan budaya tradisi tajin sappar dalam kehidupan Masyarakat kabupaten pamekasan.
Unduhan
Referensi
Adibah, I. Z. (2015). makna tradisi saparan di desa cukilan kecamatan suruh kabupaten semarang. jurnal madaniyah, 145-164.
Aisyah, S. N. (2023). Tradisi Ritual Tolak Bala Bulan Safar Masyarakat Jawa di Pematang Muawan, Rokan Hilir, Riau. As-Syar'i : Jurnal Bimbingan dan Konseling Keluarga , 1063-1078 DOI https://doi.org/10.47467/as.v5i3.5100 .
Alfadhilah, E. F. (2022). Makna Simbolik Bulan Suro Kenduri dan Selamatan Dalam Tradisi Islam Jawa. ASWALALITA(Journal of Dakwah Manajemant), 185-195.
anis refani, u. j. (2022). Tradisi ngapem bulan safar dalam perspektif istihsan bil’urf. JIMMI, 1-12.
Arwansyah. (2017). Character Education Values in the Saparan Tradition Folklore on Writing Skills Learning. Komposisi: Jurnal Bahasa Sastra dan Seni, 51-65. DOI : https://doi.org/10.24036/komposisi.v18i1.7727
asbihani, A. (2017). eksistensi tradisi mandi safar di desa tanjung punak kecamatan rupat utara kabupaten bengkalis. JOM FISIP, 1-14.
Ayuna, N. E. (2023). peran komunikasi dalam proses akulturasi sistem sosial lokal. Technomedia journal, 35-51. DOI: https://doi.org/10.33050/tmj.v8i1.2015
Az-zafi, R. r. (2020). Tradisi satu suro di tanah jawa dalam perspektif hukum islam. Al-IMAN : jurnal keislaman dan kemasyarakatan, 342-361.
Brata, I. B. (2016). Kearifan budaya lokal perekat identitas bangsa. Jurnal bakti saraswati, 9-16.
Burga, M. A. (2019). Kajian kritis tentang akulturasi islam dan budaya lokal. Zawiyah Jurnal pemikiran islam, 1-20. DOI: http://dx.doi.org/10.31332/zjpi.v5i1.1358
Christina, R. T. (2014). Implementasi kebijakan desa budaya dalam upaya pelestarian budaya lokal. Reformasi, 102-110. DOI: https://doi.org/10.33366/rfr.v4i2.56
dewi, W. r. (2023). Gambaran compliance pada masyarakat daerah magetan yang menjalakan tradisi ater ater gawon. character : Jurnal penelitian psikologi, 717-731.
Fauzi. (2018). Peran Pendidikan Dalam Transformasi Nilai Budaya Lokal di Era Millenial. INSANIA, 151-165. DOI: https://Doi.org/10.24090/insania.v23i1.2006
Halimatus Sakdiah, F. R. (2023). Menelisik Makna Jenang Safar: Kajian Pola Pikir. Jurnal Ilmiah Telaah, 01-10. DOI: https://doi.org/10.31764/telaah.v8i2.14534
Herwati. (2022). Tradisi "Sapparan" Sebagai bentuk Akulturasi Budaya Daerah dan Islam di Kabupaten Probolinggo. AL-MURABBI: jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman, 11-23. DOI: https://DOI.org/10.53627/jam.v9i1.4804
Hidaryatiningsih, N. (2016). Model proses pewarisan nilai-nilai budaya lokal dalam tradisi masyarakat buton. 108-115. DOI : https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v18i2.9228
jauharotina, E. f. (2022). Makna simbolik "Bulan suro" kenduri dan selamatan dalam tradisi islam jawa. ASWALALITA journal of dakwah management, 185-195.
kawuryan, A. c. (2016). menjaga ekspresi budaya tradisional di indonesia. jurnal ilmu hukum tambun bungai, 122-132. DOI: https://doi.org/10.20231/jihtb.v1i2.60
Khumairoh, A. Z. (n.d.). Strategi Mempertahankan Budaya Lokal Di Era Globalisasi. 1-6.
mulyadi, A. (2012). kalender ritual masyarakat muslim sumenep madura. Nuansa, 117-140.DOI :hhtps://doi.org/10.19105/nuansa.v9i1.24
Mutia. (2018). Akulturasi nilai-nilai budaya lokal dan keagamaan dan pengaruhnya terhadap perilaku-perilaku sosial. Fokus : Jurnal kajian keislaman dan kemasyarakatan, 172-198.
Nahak, H. M. (2019). Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Di Era Globalisasi. Jurnal Sosiologi Nusantara, 165-176.DOI: https//doi.org/10.33369/jsn.5.1.65-76
nurdiani, P. (2013). Bulan sura dalam perspektif islam. IBDA : jurnal kebudayaan islam, 111-118. DOI: https://doi.org/10.24090/ibda.v11i1.72
Ramli Muamara, N. A. (2020). Akulturasi islam dan budaya nusantara. Tanjak : jounal of Education and Teaching, 24-38. DOI: https://doi.org/10.35961/tanjak.v1i2.150
rosyani tomia, s. u. (2022). perspektif masyarakat tentang tradisi mandi safar. kuttab : jurnal ilmiah mahasiswa, 20-96. DOI: http://dx.doi.org/10.33477/kjim.v4i1.2889
Salawudin, M. M. (2022). Eksistensi dan Peran Elit dalam Mempertahankan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Pada Masyarakat Dusun Sade Desa Rambitan Lombok Tengah. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, 2426-2432. DOI: 10.29303/jipp.v7i4b.941
Setyaningrum, N. D. (2018). Budaya Lokal di Era Global. EKSPRESI SENI Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 102-112. DOI: http://dx.doi.org/10.26887/ekse.v20i2.392
Shinta Fauziah, W. D. (2021). Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Tajinan (Sora dan Sappar) Masyarakat Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Al-Fikru: Jurnal Pendidikan dan Sains, 245-256.
Wahab, H. D. (2020). Agama dan Kepercayaan Masyarakat Melayu Sungai Jambu Kayong Utara Terhadap Bulan Safar. MUDARRISUNA, 45-59. DOI: http://dx.doi.org/10.22373/jm.v10i1.4788
wardi, M. (2013). Tradisi ter-ater dan dampak ekonomi bagi masyarakat madura. KARSA, 41-57.DOI: https://doi.org/10.19105/karsa.v20i2.30
Yunus, R. (2013). Transformasi nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. jurnal penelitian pendidikan, 65-77.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Lisensi
Lisensi Creative Commons
Jurnal di publikasi oleh English Language Education, English Language Science and Applied English berlisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License
Anda bebas untuk:
Bagikan — menyalin dan mendistribusikan ulang materi dalam media atau format apa pun
Beradaptasi — remix, ubah, dan kembangkan materi untuk tujuan apa pun, bahkan secara komersial
Di bawah ketentuan berikut:
Atribusi — Anda harus memberikan kredit yang sesuai, memberikan tautan ke lisensi, dan menunjukkan jika ada perubahan. Anda dapat melakukannya dengan cara apa pun yang wajar, tetapi tidak dengan cara apa pun yang menunjukkan bahwa pemberi lisensi mendukung Anda atau penggunaan Anda.
Berbagi Serupa — Jika Anda mencampur, mengubah, atau membuat berdasarkan materi, Anda harus mendistribusikan kontribusi Anda di bawah lisensi yang sama seperti aslinya
Tidak ada batasan tambahan — Anda tidak boleh menerapkan ketentuan hukum atau tindakan teknologi yang secara hukum membatasi orang lain untuk melakukan apa pun yang diizinkan oleh lisensi